Sabtu, 23 Februari 2013

اِسْم مُشْتَق ISIM MUSYTAQ

Isim Musytaq ialah Isim yang dibentuk dari kata lain dan memiliki makna yang berbeda dari kata pembentuknya. Isim Musytaq itu ada tujuh macam:
1. ISIM FA'IL ( اِسْم فَاعِل ) atau Isim Pelaku (yang melakukan pekerjaan).
Isim Fa'il ada dua wazan (pola pembentukan) yaitu:
a)
فَاعِلٌ bila berasal dari Fi'il Tsulatsi (Fi'il yang terdiri dari tiga huruf)
b)
مُفْعِلٌ bila berasal dari Fi'il yang lebih dari tiga huruf
Fi'il
Isim Fa'il
عَلِمَ - يَعْلَمُ (=mengetahui)
عَالِمٌ (=yang mengetahui)
نَامَ - يَنَامُ (=tidur)
نَائِمٌ (=yang tidur)
أَكَلَ - يَأْكُلُ (=makan)
آكِلٌ (=yang makan)
أَسْلَمَ - يُسْلِمُ (=menyerah)
مُسْلِمٌ (=yang menyerah)
أَنْفَقَ - يُنْفِقُ (=berinfak)
مُنْفِقٌ (=yang berinfak)
اِسْتَغْفَرَ - يَسْتَغْفِرُ (=mohon ampun)
مُسْتَغْفِرٌ (=yang mohon ampun)
-          ISIM MUBALAGHAH
Disamping itu dikenal pula istilah bentuk MUBALAGHAH ( مُبَالَغَة ) dari Isim Fa'il yang berfungsi untuk menguatkan atau menyangatkan artinya. Contoh:
Fi'il
Isim Fa'il
Isim Mubalaghah
عَلِمَ-يَعْلَمُ
عَالِمٌ
عَلِيْمٌ / عَلاَّمٌ (=yang sangat mengetahui)
غَفَرَ-يَغْفِرُ
غَافِرٌ
غَفُوْرٌ / غَفَّارٌ (=yang suka mengampuni)
نَامَ-يَنَامُ
نَائِمٌ
نَئِيْمٌ / نَوَّامٌ (=yang banyak tidur)
أَكَلَ-يَأْكُلُ
آكِلٌ
أَكِيْلٌ / أَكَّالٌ (=yang banyak makan)
2. SIFAT MUSYABBAHAH ( صِفَة مُشَبَّهَة ) ialah Isim yang menyerupai Isim Fa'il tetapi lebih condong pada arti sifatnya yang tetap. Misalnya:
Fi'il
Isim Fa'il
Sifat Musyabbahah
فَرِحَ-يَفْرَحُ (=senang)
فَارِحٌ
فَرِحٌ (=orang senang)
عَمِيَ-يَعْمَى (=buta)
عَامِيٌ
أَعْمَى (=orang buta)
مَاتَ-يَمُوْتُ (=mati)
مَائِتٌ
مَيِّتٌ (= orang mati)
جَاعَ-يَجُوْعُ (=lapar)
جَائِعٌ
جَوْعَانٌ (= orang kelaparan)
3. ISIM MAF'UL ( اِسْم مَفْعُوْل ) yaitu Isim yang dikenai pekerjaan.
Fi'il
Isim Maf'ul
غَفَرَ - يَغْفِرُ (=mengampuni)
مَغْفُوْرٌ (=yang diampuni)
عَلِمَ - يَعْلَمُ (=mengetahui)
مَعْلُوْمٌ (=yang diketahui)
بَاعَ - يَبِيْعُ  (=menjual)
مَبِيْعٌ (=yang dijual)
قَالَ - يَقُوْلُ (=berkata)
مَقَالٌ (=yang diucapkan)
4. ISIM TAFDHIL ( اِسْم تَفْضِيْل ) ialah Isim yang menunjukkan arti "lebih" atau "paling". Wazan (pola) umum Isim Tafdhil adalah: أَفْعَلُ . Contoh:
Isim Fa'il
Isim Mubalaghah
Isim Tafdhil
عَالِمٌ
عَلِيْمٌ (=sangat mengetahui)
أَعْلَمُ (=yang lebih mengetahui)
كَابِرٌ
كَبِيْرٌ (=sangat besar)
أَكْبَرُ (=yang lebih besar)
قَارِبٌ
قَرِيْبٌ (=sangat dekat)
أَقْرَبُ (=yang lebih dekat)
فَاضِلٌ
فَضِيْلٌ (=sangat utama)
أَفْضَلُ (=yang lebih utama)
Disamping itu, terdapat pula bentuk yang sedikit agak berbeda, seperti:
Sifat Musyabbahah
Isim Tafdhil
شَدِيْدٌ (=yang sangat)
أَشَدُّ (=yang lebih sangat)
حَقِيْقٌ (=yang berhak)
أَحَقُّ (=yang lebih berhak)
عَزِيْزٌ (=yang mulia)
أَعَزُّ (=yang lebih mulia)
5. ISIM ZAMAN ( اِسْم زَمَان ) yaitu Isim yang menunjukkan waktu dan ISIM MAKAN ( اِسْم مَكَان ) yaitu Isim yang menunjukkan tempat.
Fi'il
Isim Zaman/Makan
كَتَبَ / يَكْتُبُ (=menulis)
مَكْتَبٌ (=kantor)
لَعِبَ / يَلْعَبُ (=bermain)
مَلْعَبٌ (=tempat bermain)
سَجَدَ / يَسْجُدُ (=bersujud)
مَسْجِدٌ (=masjid)
وَلَدَ / يَلِدُ (=melahirkan)
مَوْلِدٌ (=hari kelahiran)
وَعَدَ / يَعِدُ (=menjanjikan)
مَوْعِدٌ (=hari yang dijanjikan)
اِجْتَمَعَ / يَجْتَمِعُ (=berkumpul)
مُجْتَمَعٌ (=perkumpulan, pertemuan)
6. ISIM ALAT ( اِسْم آلَة ) yaitu Isim yang menunjukkan alat yang digunakan untuk melakukan suatu Fi'il atau pekerjaan.
Fi'il
Isim Alat
فَتَحَ / يَفْتَحُ (=membuka)
مِفْتَاحٌ (=kunci)
وَزَنَ / يَزِنُ (=menimbang)
مِيْزَانٌ (=timbangan)
جَلَسَ / يَجْلِسُ (=duduk)
مَجْلِسٌ (=tempat duduk)
جَهَرَ / يَجْهَرُ (=nyaring)
مِجْهَرٌ (=pengeras suara)
Pahamilah baik-baik semua jenis-jenis Isim yang terdapat dalam pelajaran ini serta contoh-contohnya sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.[1]

MENGGUGAT KEOTENTIKAN QUR’AN – SUNNAH DAN PENAFSIRAN & PEMAHAMAN KELIRU


MENGGUGAT KEOTENTIKAN QUR’AN – SUNNAH
DAN
PENAFSIRAN & PEMAHAMAN KELIRU

Disusun guna memenuhi tugas :
Mata kuliah                        : Hadits Tarbawi II
Dosen pengampu            : Ghufron Dimyati. MSI
Stain
 







Disusun oleh :
Kelas C
Aji Triyono      (2021 111 104)

JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
Al’Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui malaikan Jibril. Sedangkan sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw baik perkataan, perbuatan maupun ketetapan. Alqur’an dan sunah merupakan sumber pokok ajaran Islam yang harus dijadikan pedoman hidup bagi umat Islam dalam kehidupannya sehari-hari agar tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Di era globalisasi sekarang ini umat Islam mudah terjerumus ke jalan yang salah karena mereka sudah tidak sepenuhnya berpegang pada kedua sumber pokok ajaran Islam, hal ini bisa disaksikan banyak orang-orang Islam yang mengikuti kebiasaan-kebiasaan dari budaya luar yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.












BAB II
PEMBAHASAN
Hadits Utama
A.    Matan Hadits
عن أبي سعيد رضي الله عنه ان النبي صلى الله عليه و سلم قال : { لتــتبعن سنن من قبلكم شبرا بشبر و ذراعا  بذراع . حتى لو سلكوا جحر ضب  لسلكتموه . قلنا : يا رسول الله اليهود و النصارى ؟ قال : فمن ؟ }( رواه البخاري في الصحيح . , كتاب حاديث الانبياء باب ما ذكر  عن نبي إسرائل)
B.     Terjemah Hadits
Diriwayatkan dari Abu Sa’id r.a, SAW bersabda,Sesungguhnya kalian akan mengikuti sunnah ( jalan-jadi) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga apabila rekamelelui lubang adh-Dhabb ( hewan sejenis biawak ). niscaya kalian akan menjalaninya”. Kami berkata,“ Wahai Rasulullah, apakah Yahudi dan Nasrani ?”. Beliau menjawab, “ Lalu siapa?”. (HR. Bukhori)[1]
C.     Makna Mufrodat
Kalian akan mengetahui :              لتــتبعن  
Sunah (jalan-jalan) :                  سنن
Orang-orang sebelum kalian :             من قبلكم
Sejengkal demi sejengkal  :           شبرا بشبر
Sehasta demi sehasta :        ذراعا  بذراع
Lubang adh dhabb            :          جحر ضب
D.    Biografi Rawi (Imam Bukhori)
Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah al Ja’fi al Bukhori. Beliau dilahirkan pada hari jum’at, 13 Syawal 194 H di kota Bukkara dan meninggal di desa Khartank kota Samarkand pada tanggal 30 Romadhon tahun 256 H. Ayahnya adalah seorang yang alim di bidang hadits, mempelajarinya dari sejumlah ulama terkenal, seperti Malik Ibn Anas, Hammad Ibn Zaid, dan Ibn al Mubarak. Kecerdasan Imam Bukhori sudah nampak sejak kecil, beliau sudah mampu menghafal tulisan beberapa ulama hadits yang ada di negerinya. Al Bukhori menghafal 100.000 hadits shahih dari 200.000 hadits yang tidak shahih, suatu kemampuan yang jarang ada tandingannya. Salah satu karya besar yang monumental dalam kitab hadits yang ditulis oleh Bukhori adalah Jami’ al shahih, kitab ini dipersiapkan selama 16 tahun. Dalam teknis penulisanny, al Bukhori membuat bab-bab sesuai dengan tema dan materi hadits yang akan ditulisnya, setelah selesai menulis kitab shahihnya, al bukhori memperlihatkan kepada Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Ma’in, Ibn al Madani, dan lain-lain dari kalangan ulama-ulama hadits.[2]
E.     Keterangan Hadits
Hadits ini bercerita tentang sikap umat Islam yang akan mengikuti jejak umat-umat terdahulu. جحر ضب (lubang dhabb) adalah salah satu jenis binatang melata yang cukup dikenal (sejenis biawak). Menurut sebagian ulama penyebutan adh dhabb secara spesifik. Karena ia dikatakan sebagai hakim binatang-binatang. Pengkhususan ini berkaitan dengan lubang adh dhabb karena kondisinya yang sangat sempit dan kotor. Meski demikian, karena sikap kaum Muslimin yang senantiasa meniru dan mengikuti umat lain, maka sekiranya umat lain masuk ke tempat seperti itu niscaya kaum Muslimin akan mengikuti mereka. قال : فمن ؟  (Nabi Saw bersabda, lalu siapa?) ini adalah pertanyaan yang berkonotasi pengingkaran. Dengan demikian maknanya adalah “siapa lagi kalau bukan mereka”.[3]
Hadits Pendukung
A.    Matan Hadits
               عن عبد الرحمن العذرى قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : { يرث هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تأويل الجاهلين وانتحال المبطلين وتحريف الغالين}
B.     Terjemah Hadits
Dari Abdurrahman Al-Adzari berkata, Rasulullah saw bersabda :” Akan mewarisi ilmu ini dari setiap generasi, orang-orang yang terpercaya dari padanya. Mereka itu melakukan upaya membantah segala penafsiran orang-orang bodoh, dan kebohongan orang-orang sesat, serta membantah penyimpangan orang-orang yang melampaui batas.”(HR. Baihaqi dalam sunan al-kubra jilid 10 hal 209).
C.     Ma’na Mufrodat
Mawarisi :                          يرث
Generasi :                        خلف
Membantah :                        ينفون
Kebohongan :                       انتحال
Orang-orang sesat :                   المبطلين
Orang-orang yang melampaui batas :                      الغالين
D.    Biografi Rawi (al Baihaqi)
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Ahmad Ibn Husain Ibn ‘Aliy Ibn ‘Abd Allah Ibn Musa al Baihaqi. Ia dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 384 H di desa Khasraujird, daerah Baihaq. Baihaq adalah salah satu daerah yang terletak di Naisabur. Naisabur adalah salah satu kita utama wailayah Khurasan yang banyak menghasilkan ulama. Imam Baihaqi belajar fiqh dari Nashir al ‘Umari dan belajar ilmu kalam Madzhab al Asy’ari. Ia adalah ahli hadits yang paling cakap yang mampu menyatukan perbedaan faham. Ia cepat dalam memahami dan memiliki potensi kecerdasan yang sangat baik.[4] Ia banyak menulis buku, di antara karya-karyanya adalah: al Sunan al Kubra, Manaqib al Syafi’i dan sebagainya.[5]
E.     Keterangan Hadits
Telah kita ketahui bahwa Islam terdiri dari beberapa aliran yang masing-masing memiliki pola pemikiran yang berbeda-beda. pola pemikiran yang berbeda-beda tersebut sering menimbulkan perbedaan pendapat dalam beberapa hal, misalnya dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Di dalam hadits ini dijelaskan bahwa penafsiran dan pemahaman ayat-ayat al-Qur’an yang keliru dilakukan oleh orang-orang bodoh yang tidak menguasai ilmu tafsir dan ilmu-ilmu pendukung lainnya, akan menjerumuskan umat Islam ke jalan yang sesat yang menyimpang dari ajaran Islam. Di dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa dari setiap generasi, Allah akan memilih orang-orang terpercaya dari mereka untuk melakukan upaya membantah segala penafsiran orang-orang bodoh dan kebohongan orang-orang sesat, serta penyimpangan orang-orang yang melampaui batas.
v  Aspek Tarbawi
Dari uraian kedua hadits di atas maka aspek tarbawi yang dapat diambil adalah:
Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua sumber pokok hukum Islam yang harus dijadikan pegangan atau pedoman bagi umat Islam agar mereka tidak tersesat, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang artinya “aku tinggalkan pada kalian dua hal yang tidak akan tersesat selagi kalian berpegangan dengannya: Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya”.
Sejak masuknya sekularisasi ke dunia Islam, baik kolonialisme maupun interaksi budaya, dunia pemikiran Islam hampir tak pernah tentram dan tenang. Polemik dan benturan pemikiran senantiasa mewarnai perjalanan peradaban Islam. Ulama dan kaum intelektual muslim sebagai penjaga benteng pemikiran Islam, tidak boleh berlaku pasif dan monoton, mereka berkewajiban memelihara kemurnian Islam dari berbagai penyimpangan yang keliru.
Islam tidak boleh ditafsirkan semaunya dengan mengatasnamakan modernisasi, kebebasan berpikir dan lain sebagainya agar sesuai dengan target dan kepentingan pribadi mereka. Wahyu diturunkan untuk membentuk kehidupan manusia, bukan sebaliknya, wahyu dimodifikasi agar sesuai dengan selera dan kemauan manusia. Manusia harus mendengar apa kata wahyu, bukan wahyu mendengar apa maunya manusia.[6]







BAB III
PENUTUP
Simpulan:
Sudah seharusnya umat Islam berpegang teguh terhadap dua sumber pokok ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan sunah, agar mereka tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Umat Islam harus bisa menyeleksi budaya-budaya dari luar agar tidak menyesatkan mereka.
Berkembangnya aliran-aliran Islam yang memiliki pola pemikiran yang berbeda-beda akan menimbulkan perbedaan dalam berbagai hal terutama dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, oleh karena itu umat Islam harus mampu memilih mana yang benar dan mana yang salah dengan cara mempelajari ilmu-ilmu agama.











DAFTAR PUSTAKA
Al Asqolani, Ibnu Hajar. 2008. Fathul Baari. Jakarta: Pustaka Azzam.
Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga. 2009. Studi Kitab Hadits. Yogyakarta: TERAS.
Husain, Adian. 2005. Penyesatan Opini. Jakarta: Gema Isnani.
Ratu Suntiah, Maslani. 2010. Ikhtisar Ulumul Hadits. Bandung: SEGA ARSY.


[1] Ibnu Hajar Al Asqolani, Fathul Baari, Cet. ke.2, Jilid XVII, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 661.
[2] Maslani. Ratu Suntiah, Ikhtisar Ulumul Hadits, Cet, pertama, (Bandung: SEGA ARSY, 2010), hlm. 142-143.
[3] Ibnu Hajar Al Asqolani, Loc.cit., hlm. 669.
[4] Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga, Studi Kitab Hadits, Cet.ke. 2, (Yogyakarta: TERAS, 2009), hlm. 196.
[5] Ibid., hlm. 200-202.
[6] Adian Husain, Penyesatan Opini, Cet. Ke. 2, (Jakarta: Gema Isnani, 2005), hlm. IX.