ILMU TENTANG ATURAN DAN HUKUM
(HUBUNGAN MANUSIA DENGAN PENCIPTA)
Disusun guna memenuhi tugas :
Mata kuliah :
Hadits Tarbawi II
Dosen pengampu :
Ghufron Dimyati. MSI
![]() |
Disusun oleh :
Kelas
C
Asyef Nurdianto (2021 111 113)
JURUSAN
TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
BAB I
PENDAHULUAN
Segala yang ada di muka bumi ini tidak cercipta dengan sendirinya,
melainkan karena adanya sang pencipta yaitu Allah SWT,. Segala yang ada telah
tertata dan terintegrasi secara baik dan sempurna atas kehendak Allah. Juga
mengenai hubungan makhluk dengan makhluk ataupun makhluk dengan penciptanya.
Hubungan antara manusia dengan pencipta (حبل
من الله) bisa menjadi baik
dengan adanya Iman, Islam dan Ihsan sebagai landasan untuk bisa berhubungan
dengan sang Pencipta. Rasulullah saw pernah bersabda mengenai apa itu Iman,
Islam dan Ihsan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Matan Hadits
عن ابي هريرة قال: { كان النبي صلي الله عليه و سلم بارزا
يوما للناس فأتاه جبريل فقال: ما الإيمان قال: الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته و
كتبه و بلقائه و رسله و تؤمن بالبعث قال: ما الإسلام قال: الإسلام أن تعبد الله
ولاتشرك به شيئا و تقيم الصلاة و تؤدي الزكاة المفروضة و تصوم رمضان قال: ما
الإحسان قل: أن تعبد الله كأنك تراه فأن لم تكن تراه فإنه يراك قال متى الساعة
قال: ما المسئول عنها بأعلم من السائل و سأخبرك عن أشراطها إذاولدت الأمة ربها
وإذا تطاول رعاة الإبل البهم في البنيان في خمس لا يعلمهن إلا الله ثم تلا النبي
صلى الله عليه وسلم (إن الله عنده علم الساعة) الآية ثم أدبر فقال ردوه فلم
يرواشيئا فقال هذا جبريل جاء يعلم الناس دينهم قال أبو عبدالله جعل ذلك كله من
الإيمان } . (رواه البخارى فى الصحيح,
كتاب الإيمان, باب سؤال جبريل النبى عن الإيمان و الإسلام و الإحسان)
B.
Terjemah hadits
Dikabarkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa pada suatu hari Nabi
SAW sedang tampak di hadapan orang-orang, tiba-tiba datang kepadanya seorang
pria dan bertanya, "Apakah artinya Iman?" Rasulullah menjawab, "Iman
ialah percaya kepada Allah, kepada malaikat-Nya, Rasul-Nya dan kepada
kebangkitan" Kemudian orang tersebut kembali bertanya, "Apa
artinya Islam?" Nabi menjawab, "Islam yaitu menyembah Allah
dan tidak mempersekutukan Nya, menegakkan shalat, membayar zakat dan
puasa Ramadhan. "Lalu dia kembali bertanya, "Apakah artinya
Ihsan?" Rasul menjawab, "Ihsan ialah menyembah Allah
seolah-olah engkau melihat Dia. Biarpun engkau tidak melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihat engkau." Orang tersebut bertanya lagi,
"Kapankah hari kiamat?" Nabi menjawab, "Orang yang ditanya
tidak lebih tahu dari orang yang bertanya, tapi akan kuterangkan
tanda-tandanya; yaitu apabila budak perempuan melahirkan majikannya,
apabila penggembala unta telah bermegah-megah dalam gedung yang indah
mewah; dan kiamat adalah salah satu dari lima rahasia Allah yang hanya
Dia yang mengetahuinya. "Kemudian Rasulullah membaca, "Hanya
Allah yang mengetahui hari kiamat." Setelah itu orang tersebut
pergi. Maka Nabi bersabda, "Panggillah dia kembali." Akan
tetapi mereka tidak melihatnya lagi. Rasul kemudian bersabda, "Itulah
Jibril, dia mengajarkan agama kepada umat manusia". (HR. Abu
Hurairah)[1]
C.
Makna Mufrodat
Muncul : بَارِزًا
Maka datang : فَأَتَاهُ
Apakah iman itu : مَا اْلإِيْمَانُ
Kamu beriman : أَنْ تُؤْمِنَ
Kepada Allah : بِاللهِ
Pertemuan : بِلِقَائِهِ
Kamu menyembah : تَعْبُدَ
Biarpun engkau tidak melihatnya : فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ
Orang yang ditanya : المَسْـءُولُ
Tidak lebih tau : بِأَعْلَمَ
D.
Biografi Rawi (Abu Hurairah ra.)
Nama asli
beliau adalah Abdur Rahman ibn Sakhr (Abdullah ibn Skhr) Ad Dausy At Tamimy. Di
masa jahiliah beliau bernama Abu Syams, setelah masuk Islam, beliau diberi nama
oleh Nabi dengan Abdur Rahman atau Abdullah, ibunya bernama Maimunah, yang
memeluk Islam berkat seruan Nabi. Beliau lahir tahun 21 sebelum Hijrah = tahun
602 M dan meninggal di Madinah pada tahun 59 H = 679 M.
Abu Hurairah
datang ke Madinah pada tahun Khaibar yaitu pada bulan Muharram tahun 7 H, lalu
memeluk Islam. Setelah itu beliau tetap beserta Nabi dan menjadi ketua Jama’ah
Ahlus Suffah. Karena itu beliau mendengar hadits dari Nabi.
Beliau adalah
yang paling banyak hapalannya di antara sahabat. Imam Bukhari, Muslim dan At
Tirmidzi mentakhrijkan sebuah Hadits darinya, bahwa ia pernah berkata: “Aku
pernah mengadu kepada Rasulullah saw.: “wahai utusan Allah! Aku mendengar
banyak darimu, tetapi aku tidak hapal.” Rasulullah bersabda: “Bentangkanlah
selendangmu!” Aku pun membentangkannya lalu Rasulullah saw menceritakan banyak
hadits kepadaku dan aku tidak melupakan sedikit pun apa yang beliau ceritakan
kepadaku.”
Abu Hurairah
telah meriwayatkan dari hadits Nabi saw., dari Abu bakar, Umar ibn khathab,
Utsman ibn Affan, Ubai ibn Ka’ab, Usman ibn zaid, A’isyah, Ka’ab al-Ahbar, dan
sahabat-sahabat lain.
Betapa pun
wira’i, takwa dan zuhudnya, beliau selalu gembira dan suka berkelakar. Apabila melewati anak-anak, ia acap kali
membuat mereka tertawa. Kalau bertemu dengan orang-orang di pasar, ia
menceritakan sesuatu yang membuat mereka gembira. Tetapi jika sedang sendirian
ia bertahajud, yang dilakukannya dengan khusyu’ dan luluh sepanjang malam.[2]
E.
Aspek Tarbawi
Dari hadits di
atas dapat diambil beberapa hal yang bisa dijadikan pembelajaran tentang apa
itu Iman, Islam dan Ihsan. Rasanya sudah cukup jelas apa arti dari Iman, Islam
dan Ihsan. Iman Yaitu "Iman ialah percaya kepada Allah, kepada malaikat-Nya,
Rasul-Nya dan kepada kebangkitan", Islam yaitu "Islam yaitu
menyembah Allah dan tidak mempersekutukan Nya, menegakkan shalat, membayar zakat dan
puasa Ramadhan” dan Ihsan yaitu "Ihsan ialah menyembah Allah
seolah-olah engkau melihat Dia. Biarpun engkau tidak melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihat engkau”. Rasul sendirilah yang menerangkannya
kepada yang bertanya yang tidak lain adalah malaikat Jibril. Sunah merupakan
salah satu sumber hukum Islam selain Al-Qur’an, sudah semestinya kita mengikuti
sunah Nabi.
Mengenai kapan
datangnya hari kiamat, wallahualam hanya Allah yang tahu, yang pasti kiamat
semakin dekat maka tugas kita adalah beribadah kepada Allah sebaik mungkin,
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
F.
Keterangan Hadits
كان النبي صلي الله عليه
و سلم بارزا يوما للناس (Dan Nabi sedang tampak di hadapan orang-orang). Maksudnya,
Rasul benar-benar berada di hadapan mereka tanpa penghalang. Hal tersebut
diterangkan dalam riwayat Abu Farwah yang telah kita sebutkan. Awal riwayat
tersebut adalah, Ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya,
datanglah orang asing bergabung bersama mereka. Kemudian datanglah seorang
pria, maksudnya malaikat dalam wujud manusia. Imam Bukhari dalam kitab tafsir
menyebutkan, bahwa orang tersebut datang dengan berjalan.
ما الإيمان (Apakah Iman?) Ada yang berpendapat bahwa
pertanyaan pertama tentang Iman, karena Iman adalah dasar atau pokok.
Pertanyaan kedua tentang Islam, karena Islam sebagai tanda keyakinan atas apa
yang dinyatakan dan diyakininya. Pertanyaan ketiga tentang Ihsan, karena hal
tersebut tergantung kepada Iman dan Islam.
قال: الإيمان أن تؤمن
بالله وملائكته و كتبه و بلقائه و رسله و تؤمن بالبعث (Iman adalah beriman Iman adalah beriman
kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya,
rasul-rasul-Nya dan hari kebangkitan). Jawaban tersebut membuktikan bahwa pria
tersebut menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan iman, bukan tentang makna
lafazhnya. Jika tidak maka jawabannya adalah "Iman adalah keyakinan
(At-Tashdiq)"
Dalam riwayat
ini lafazh و بلقائه ditemukan diantara kata "Kutub" dan
"Rasul”. Demikian pula dengan riwayat Muslim yang berasal dari dua
jalur dan tidak ditemukan pada riwayat-riwayat lain. Ada pendapat yang
mengatakan bahwa yang dimaksud dengan bangkit adalah bangkit dari kubur,
sedangkan yang dimaksud dengan kata لقاء (bertemu) adalah setelah
dibangkitkan.
Keimanan kepada
para rasul adalah keyakinan terhadap apa yang disampaikan mereka tentang Allah.
Disebutkannya malaikat, kitab dan rasul secara global menunjukkan bahwa beriman
terhadap mereka sudah cukup, kecuali ada hal yang dikhususkan. Urutan ini
sesuai dengan ayat, "Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang
diturunkan kepadanya dari Tuhannya" (Qs. Al Baqarah (2): 285)
و تؤمن بالبعث
(Beriman kepada hari kebangkitan). Dalam kitab tafsir ditambahkan
kata "Hari akhir". Maksud beriman kepada hari akhir adalah
percaya terhadap apa yang terjadi di hari akhir yang berupa hisab
(perhitungan), penimbangan, surga dan neraka.[3]
BAB III
PENUTUP
Simpulan:
Dari hadits di atas menerangkan bagaimana hubungan manusia dengan
pencipta dengan Iman, Islam dan Ihsan. Manusia dan pencipta tak bisa dipisahkan
laksana roh dan jasad, tak ada roh tanpa jasad begitu pula sebaiknya.
Tugas kita sekarang adalah merealisasikan Iman, Islam dan Ihsan
dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menjalin hubungan baik dengan sang
pencipta yaitu Allah SWT. Yaitu dengan cara tidak menyekutukan-Nya, menjalankan
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Az-Zalabi, Imam. 1997. Ringkasan Shahih Bukhori. Bandung:
Mizan.
Ash-Shalih, Subhi. 2009. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. Jakarta:
Pustaka Firdaus.
Al Asqalani, Al Imam Al Hafizh Ibnu
Hajar. 2002. Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari 1 (Penerjemah:
Ghazirah Abdi Ummah). Jakarta: PUSTAKA AZZAM Anggota IKAPI DKI.
[1] Imam
Az-Zalabi, Ringkasan Shahih Bukhori, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 25-26.
[2] Subhi
ash-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis, Cet. Ke. 8, (Jakarta: Pustaka
Firdaus, 2009), hlm. 332-334.
[3] Al Imam Al
Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari 1
(Penerjemah: Ghazirah Abdi Ummah), Edisi Indonesia, Cet. 1, (Jakarta: PUSTAKA
AZZAM Anggota IKAPI DKI, 2002), hlm. 206-230.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar