MENGGUGAT KEOTENTIKAN QUR’AN – SUNNAH
DAN
PENAFSIRAN & PEMAHAMAN KELIRU
Disusun guna memenuhi tugas :
Mata kuliah :
Hadits Tarbawi II
Dosen pengampu :
Ghufron Dimyati. MSI
![]() |
Disusun oleh :
Kelas
C
Aji Triyono (2021 111 104)
JURUSAN
TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
BAB I
PENDAHULUAN
Al’Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
saw. melalui malaikan Jibril. Sedangkan sunnah adalah segala sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi Muhammad saw baik perkataan, perbuatan maupun
ketetapan. Alqur’an dan sunah merupakan sumber pokok ajaran Islam yang harus
dijadikan pedoman hidup bagi umat Islam dalam kehidupannya sehari-hari agar
tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Di era globalisasi sekarang ini umat
Islam mudah terjerumus ke jalan yang salah karena mereka sudah tidak sepenuhnya
berpegang pada kedua sumber pokok ajaran Islam, hal ini bisa disaksikan banyak
orang-orang Islam yang mengikuti kebiasaan-kebiasaan dari budaya luar yang
tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
Hadits Utama
A.
Matan
Hadits
عن أبي سعيد رضي الله
عنه ان النبي صلى الله عليه و سلم قال : { لتــتبعن سنن من قبلكم شبرا بشبر و
ذراعا بذراع . حتى لو سلكوا جحر ضب لسلكتموه . قلنا : يا رسول الله اليهود و
النصارى ؟ قال : فمن ؟ }( رواه البخاري في الصحيح . , كتاب حاديث الانبياء باب ما
ذكر عن نبي إسرائل)
B.
Terjemah Hadits
Diriwayatkan dari Abu
Sa’id r.a, SAW bersabda,Sesungguhnya kalian akan mengikuti sunnah ( jalan-jadi)
orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta
hingga apabila rekamelelui lubang adh-Dhabb ( hewan sejenis biawak ). niscaya
kalian akan menjalaninya”. Kami berkata,“ Wahai Rasulullah, apakah Yahudi dan
Nasrani ?”. Beliau menjawab, “ Lalu siapa?”. (HR. Bukhori)[1]
C.
Makna
Mufrodat
Kalian akan mengetahui :
لتــتبعن
Sunah (jalan-jalan) : سنن
Orang-orang sebelum kalian :
من قبلكم
Sejengkal demi sejengkal : شبرا بشبر
Sehasta demi sehasta : ذراعا بذراع
Lubang adh dhabb :
جحر ضب
D.
Biografi
Rawi (Imam Bukhori)
Nama lengkapnya
adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin
Bardizbah al Ja’fi al Bukhori. Beliau dilahirkan pada hari jum’at, 13 Syawal
194 H di kota Bukkara dan meninggal di desa Khartank kota Samarkand pada
tanggal 30 Romadhon tahun 256 H. Ayahnya adalah seorang yang alim di bidang
hadits, mempelajarinya dari sejumlah ulama terkenal, seperti Malik Ibn Anas,
Hammad Ibn Zaid, dan Ibn al Mubarak. Kecerdasan Imam Bukhori sudah nampak sejak
kecil, beliau sudah mampu menghafal tulisan beberapa ulama hadits yang ada di
negerinya. Al Bukhori menghafal 100.000 hadits shahih dari 200.000 hadits yang
tidak shahih, suatu kemampuan yang jarang ada tandingannya. Salah satu karya
besar yang monumental dalam kitab hadits yang ditulis oleh Bukhori adalah Jami’
al shahih, kitab ini dipersiapkan selama 16 tahun. Dalam teknis penulisanny, al
Bukhori membuat bab-bab sesuai dengan tema dan materi hadits yang akan
ditulisnya, setelah selesai menulis kitab shahihnya, al bukhori memperlihatkan
kepada Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Ma’in, Ibn al Madani, dan lain-lain dari kalangan
ulama-ulama hadits.[2]
E.
Keterangan
Hadits
Hadits ini
bercerita tentang sikap umat Islam yang akan mengikuti jejak umat-umat
terdahulu. جحر ضب (lubang dhabb) adalah salah satu jenis
binatang melata yang cukup dikenal (sejenis biawak). Menurut sebagian ulama
penyebutan adh dhabb secara spesifik. Karena ia dikatakan sebagai hakim
binatang-binatang. Pengkhususan ini berkaitan dengan lubang adh dhabb karena
kondisinya yang sangat sempit dan kotor. Meski demikian, karena sikap kaum
Muslimin yang senantiasa meniru dan mengikuti umat lain, maka sekiranya umat
lain masuk ke tempat seperti itu niscaya kaum Muslimin akan mengikuti mereka. قال : فمن ؟ (Nabi Saw bersabda, lalu
siapa?) ini adalah pertanyaan yang berkonotasi pengingkaran. Dengan demikian
maknanya adalah “siapa lagi kalau bukan mereka”.[3]
Hadits Pendukung
A.
Matan
Hadits
عن عبد
الرحمن العذرى قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : { يرث هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تأويل الجاهلين وانتحال
المبطلين وتحريف الغالين}
B.
Terjemah
Hadits
Dari Abdurrahman
Al-Adzari berkata, Rasulullah saw bersabda :” Akan mewarisi ilmu ini dari
setiap generasi, orang-orang yang terpercaya dari padanya. Mereka itu melakukan
upaya membantah segala penafsiran orang-orang bodoh, dan kebohongan orang-orang
sesat, serta membantah penyimpangan orang-orang yang melampaui batas.”(HR.
Baihaqi dalam sunan al-kubra jilid 10 hal 209).
C.
Ma’na
Mufrodat
Mawarisi : يرث
Generasi : خلف
Membantah : ينفون
Kebohongan : انتحال
Orang-orang sesat : المبطلين
Orang-orang yang melampaui batas : الغالين
D.
Biografi
Rawi (al Baihaqi)
Nama lengkapnya
adalah Abu Bakar Ahmad Ibn Husain Ibn ‘Aliy Ibn ‘Abd Allah Ibn Musa al Baihaqi.
Ia dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 384 H di desa Khasraujird, daerah
Baihaq. Baihaq adalah salah satu daerah yang terletak di Naisabur. Naisabur
adalah salah satu kita utama wailayah Khurasan yang banyak menghasilkan ulama.
Imam Baihaqi belajar fiqh dari Nashir al ‘Umari dan belajar ilmu kalam Madzhab
al Asy’ari. Ia adalah ahli hadits yang paling cakap yang mampu menyatukan
perbedaan faham. Ia cepat dalam memahami dan memiliki potensi kecerdasan yang
sangat baik.[4]
Ia banyak menulis buku, di antara karya-karyanya adalah: al Sunan al Kubra,
Manaqib al Syafi’i dan sebagainya.[5]
E.
Keterangan
Hadits
Telah kita
ketahui bahwa Islam terdiri dari beberapa aliran yang masing-masing memiliki
pola pemikiran yang berbeda-beda. pola pemikiran yang berbeda-beda tersebut
sering menimbulkan perbedaan pendapat dalam beberapa hal, misalnya dalam
penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Di dalam hadits ini dijelaskan bahwa penafsiran
dan pemahaman ayat-ayat al-Qur’an yang keliru dilakukan oleh orang-orang bodoh
yang tidak menguasai ilmu tafsir dan ilmu-ilmu pendukung lainnya, akan
menjerumuskan umat Islam ke jalan yang sesat yang menyimpang dari ajaran Islam.
Di dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa dari setiap generasi, Allah akan
memilih orang-orang terpercaya dari mereka untuk melakukan upaya membantah
segala penafsiran orang-orang bodoh dan kebohongan orang-orang sesat, serta
penyimpangan orang-orang yang melampaui batas.
v Aspek Tarbawi
Dari uraian
kedua hadits di atas maka aspek tarbawi yang dapat diambil adalah:
Al-Qur’an dan
Sunnah merupakan dua sumber pokok hukum Islam yang harus dijadikan pegangan
atau pedoman bagi umat Islam agar mereka tidak tersesat, hal ini sesuai dengan
sabda Rasulullah saw yang artinya “aku tinggalkan pada kalian dua hal yang
tidak akan tersesat selagi kalian berpegangan dengannya: Kitab Allah
(Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya”.
Sejak masuknya
sekularisasi ke dunia Islam, baik kolonialisme maupun interaksi budaya, dunia
pemikiran Islam hampir tak pernah tentram dan tenang. Polemik dan benturan
pemikiran senantiasa mewarnai perjalanan peradaban Islam. Ulama dan kaum
intelektual muslim sebagai penjaga benteng pemikiran Islam, tidak boleh berlaku
pasif dan monoton, mereka berkewajiban memelihara kemurnian Islam dari berbagai
penyimpangan yang keliru.
Islam tidak
boleh ditafsirkan semaunya dengan mengatasnamakan modernisasi, kebebasan
berpikir dan lain sebagainya agar sesuai dengan target dan kepentingan pribadi
mereka. Wahyu diturunkan untuk membentuk kehidupan manusia, bukan sebaliknya,
wahyu dimodifikasi agar sesuai dengan selera dan kemauan manusia. Manusia harus
mendengar apa kata wahyu, bukan wahyu mendengar apa maunya manusia.[6]
BAB III
PENUTUP
Simpulan:
Sudah seharusnya umat Islam berpegang teguh terhadap dua sumber
pokok ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan sunah, agar mereka tidak terjerumus ke
jalan yang sesat. Umat Islam harus bisa menyeleksi budaya-budaya dari luar agar
tidak menyesatkan mereka.
Berkembangnya aliran-aliran Islam yang memiliki pola pemikiran yang
berbeda-beda akan menimbulkan perbedaan dalam berbagai hal terutama dalam
penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, oleh karena itu umat Islam harus mampu memilih
mana yang benar dan mana yang salah dengan cara mempelajari ilmu-ilmu agama.
DAFTAR PUSTAKA
Al Asqolani, Ibnu Hajar. 2008. Fathul Baari. Jakarta:
Pustaka Azzam.
Dosen
Tafsir Hadits Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga. 2009. Studi Kitab
Hadits. Yogyakarta: TERAS.
Husain, Adian. 2005. Penyesatan Opini. Jakarta: Gema Isnani.
Ratu Suntiah, Maslani. 2010. Ikhtisar Ulumul Hadits. Bandung:
SEGA ARSY.
[1] Ibnu Hajar Al
Asqolani, Fathul Baari, Cet. ke.2, Jilid XVII, (Jakarta: Pustaka Azzam,
2008), hlm. 661.
[2] Maslani. Ratu
Suntiah, Ikhtisar Ulumul Hadits, Cet, pertama, (Bandung: SEGA ARSY,
2010), hlm. 142-143.
[3] Ibnu Hajar Al
Asqolani, Loc.cit., hlm. 669.
[4] Dosen Tafsir
Hadits Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga, Studi Kitab Hadits,
Cet.ke. 2, (Yogyakarta: TERAS, 2009), hlm. 196.
[5] Ibid.,
hlm. 200-202.
[6] Adian Husain, Penyesatan
Opini, Cet. Ke. 2, (Jakarta: Gema Isnani, 2005), hlm. IX.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar